okezone.com | GUNUNGKIDUL- Ratusan umat Hindu di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, menggelar upacara Melasti. Upacara dipusatkan di kawasan Pura Segara Ukir, Pantai Ngobaran, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul, hari ini.
Upacara Melasti yang bertepatan dengan purnama kesembilan, diawali dengan Ngateb Banten atau menyerahkan uborampe sesaji yang dipimpin oleh Wasi Triman dan diikuti para pemangku agama Hindu.
Upacara dilanjutkan dengan sembahyang atau doa bersama diikuti oleh seluruh umat yang hadir, diakhiri labuhan sesaji serta pembersihan segala macam peralatan persembahyangan dari 15 pura yang ada di Gunungkidul, di Pantai Ngobaran.
Menurut Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia Gunungkidul Hadi Suyono di sela-sela acara, ini merupakan rangkaian dari hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933.
"Melasti sebagai bentuk upacara menyucikan diri manusia untuk menyambut datangnya Nyepi," jelas Hadi, Kamis (17/2/2011).
Dia menambahkan, upacara pelarungan sesaji ke laut merupakan wujud dari dibuangnya enam sifat buruk manusia yakni Kama atau nafsu biologis, rakus, kemarahan; Madha atau kemabukan, kebingungan; serta dan sikap iri hati.
17 Februari 2011
Ratusan Umat Hindu Gelar Melasti Jelang Nyepi
24 Januari 2011
Jim Carrey Dikecam Pemuka Agama Hindu
Liputan6.com, New York: Aktor komedian Jim Carrey dikabarkan dikecam para pemuka agama Hindu dan Yahudi. Kecaman menyusul tudingan Carrey mengejek Dewa Hindu Ganesha dalam sebuah acara televisi komedi AS "Saturday Night Live" yang ditayangkan sejak awal Januari.
Dilansir situs Contactmusic.com, Ahad (23/1) kemarin, pemimpin agama Hindu dan Yahudi bergabung untuk menuntut permintaan maaf dari Jim Carey dan bos pemilik jaringan televisi NBC. Tuntutan mengemuka setelah Carrey dan Kenan Thompson beradegan seks bertajuk nama dewa Hindu. Dalam acara komedi itu, sang aktor memeragakan posisi-posisi seks terbaru bersama Thompson berpakaian ala dewa.
Kepada media WENN, pemimpin agama Hindu Rajan Zed mengatakan, "Dewa Ganesha sangat dihormati dalam agama Hindu untuk disembah di kuil-kuil atau rumah suci dan tidak untuk dilempar-lempar dalam efek dramatis sebuah serial televisi. Ini sangat mengganggu dan ofensif terhadap seluruh umat Hindu di seluruh dunia."
Selain itu, pemimpin agama Yahudi Elizabeth W. Beyer juga membuat pernyataan yang berisi kritikan kepada pihak bertanggung jawab untuk drama komedi tersebut. Ia meminta acara bertajuk "The Wrath of Ganesha" itu segera dihapus dari situs resmi NBC serta meminta maaf ke seluruh publik.(JAY/AIS)
08 Oktober 2010
Umat Hindu di Bali Rayakan Tumpek Landep
Liputan6.com, Denpasar: Umat Hindu di Bali merayakan Hari Tumpek Landep, persembahan suci yang khusus ditujukan untuk semua jenis benda yang berbahan baku besi, perak, tembaga dan jenis logam lainnya, Sabtu (9/10). Kegiatan ritual menggunakan kelengkapan sarana banten, rangkaian janur kombinasi bunga dan buah-buahan dipersembahkan untuk berbagai jenis alat produksi dan aset, termasuk keris dan senjata pusaka.
Aset yang mendapat persembahan khusus pada hari istimewa umat Hindu di Pulau Dewata itu, antara lain mesin, kendaraan, sepeda motor, dan alat teknologi, termasuk perangkat komputer dan televisi. Upacara dilakukan di rumah tangga masing-masing, dengan skala besar ataukecil sesuai kemampuan dari keluarga bersangkutan.
Upacara itu bermakna untuk memohon keselamatan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata. Selain itu, juga merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih, hingga tercipta benda-benda yang mampu mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Program Studi Pemandu wisata Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar Doktor Drs I Ketut Sumadi M.Par menjelaskan, Tumpek Landep juga merupakan "pujawali" Betara Siwa yang berfungsi melebur dan memralina (memusnahkan) untuk kembali ke asalnya.
Salah satu hari yang cukup diistimewakan umat Hindu itu berlangsung setiap 210 hari sekali. Masyarakat yang berprofesi sebagai petani mempersembahkan kurban suci itu ditujukan terhadap alat-alat pertanian berupa canggul, sabit, atau traktor. Semua peralatan yang terbuat dari besi dan tembaga, termasuk mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang di jalan raya, pada Hari Tumpek Landep mendapat persembahkan sesajen dan hiasan khusus dari janur yang disebut ceniga, sampian gangtung, dan tamiang.
Teknologi canggih, menurut Ketut Sumadi, hendaknya dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup orang Bali yaitu Tri Hita Karana, hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh sebab itu seluruh peralatan yang digunakan umat manusia dalam mengolah isi alam, khususnya peralatan yang mengandung unsur besi, baja, emas, atau perak harus tetap terjaga kesuciannya. Dengan demikian, alat-alat itu selamanya akan dapat digunakan dengan baik, tanpa merusak alam lingkungan.
Masyarakat yang berprofesi sebagai petani misalnya, akan merawat dan menjaga alat-alat pertaniannya dengan baik. "Sementara masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat berbagai jenis peralatan dari bahan baku besi, baja, emas, perak (perajin) akan memelihara dan menjaga peralatannya, agar tidak disalahgunakan untuk membuat benda-benda yang membahayakan kehidupan di alam semesta ini," tutur Ketut Sumadi.(ANT/SHA)
http://berita.liputan6.com/sosbud/201010/300466/Umat.Hindu.di.Bali.Rayakan.Tumpek.Landep
05 Juli 2010
Ritual Tusuk Pipi dan Jalan di Atas Pedang
Umat Hindu menggelar Upacara Vaikasi Maha Puja Di atau ritual tolak bala di Kuil Shri Mariamman Pematangsiantar, Minggu (4/7). Kegiatan tersebut diisi ritual tusuk pipi dan berjalan di atas pedang.
Acara ritual tersebut dihadiri umat Hindu dari Pematangsiantar dan berbagai daerah di lain di Sumatera Utara (Sumut).
Upacara ini dirangkai peringatan bulan Adi (bulan dalam agama Hindu). Acara tersebut sebenarnya telah dimulai sejak tiga hari sebelumnya, dan kemarin merupakan acara puncak. Jika di hari-hari sebelumnya acara hanya diisi dengan berdoa dan sembahyang di kuil, kemarin ratusan umat Hindu berarak-arakan menuju Sungai Bah Bolon di Jalan MH Sitorus, tepat di samping rumah dinas Wali Kota Pematangsiantar. Di aliran sungai tersebut, umat Hindu membuang bunga Sakti Kargem (sesajen). Lalu merangkai bunga Puspa Kargem, yang diartikan sebagai persembahan untuk Dewi, serta diarak keliling kota hingga ke Kuil Shri Mariamman, Jalan Diponegoro Belakang Nomor 21 B, Siantar Barat..
Berbagai kembang aneka warna dirangkai dan ditabur di lokasi acara. Aroma dupa pun tercium. Sementara peserta ritual tidak diizinkan mengenakan alas kaki, baik sandal maupun sepatu. Sebab lokasi ritual dianggap sudah suci karena sebelumnya disiram air kunyit, sehingga tidak bisa diinjak menggunakan sandal atau sepatu.
Pemimpin ritual, Jaya Barti kepada METRO mengatakan, acara ini baru diadakan kembali setelah vakum selama 24 tahun. Katanya, selama 14 tahun, yakni sejak tahun 1971 hingga 1985, acara tersebut rutin dilakukan guru dan tokoh agama Hindu. Namun kemudian vakum hingga tahun 2009. Barulah di tahun 2010 ini, kegiatan tersebut digelar kembali.
"Memang dulu rutin dilakukan. Tapi karena para guru dan tokoh agama sudah meninggal dunia, maka jadi vakum, dan baru dilaksanakan tahun ini. Untuk ke depan, kita sudah berupaya agar generasi muda mempelajari tradisi ini dan tidak hilang begitu saja ditelan zaman," katanya.
Khusus untuk Kota Pematangsiantar, Jaya Barti mengatakan mereka selalu berdoa kepada Dewa agar kota dan warganya dilimpahkan berkah dan terhindar dari bala.
"Kalau sudah kita adakan ritual ini, maka jika diizinkan-Nya, maka kota ini akan terhindar dari bala, serta diberi keberkahan serta tanah yang subur," katanya seraya menambahkan, ritual ini dilaksanakan bergilir di 20 Kuil Shri Mariamman di seluruh Sumut.
Pada ritual kemarin, saat berada di aliran Sungai Bah Bolon, seorang pemuda ditusuk pipi kiri hingga menembus pipi kanannya. Ini termasuk salah satu syarat ritual. Selanjutnya, seorang pria berbadan tegap seperti kerasukan dan mampu berdiri serta berjalan di atas pedang tajam sambil mencambuk dirinya sendiri. Kegiatan ini pun mendapat perhatian warga.
Siwaa (42), warga Lubuk Pakam, Kabupaten Deliserdang yang mengikuti prosesi ritual sempat menerangkan berbagai kegiatan yang digelar dalam ritual tersebut. Katanya, bulan Adi Maso adalah bulan suci untuk umat Hindu. Seperti bulan Ramadan bagi umat Islam. Di setiap bulan Adi, katanya, umat Hindu selalu menggelar ritual sembari memanjatkan doa, menghantar sesajen untuk memohon kemakmuran negeri, dan tolak bala. Upacara ini disebut Vaikasi Maha Puja, di mana umat Hindu Kuil Shri Mariamman memanjatkan doa dan sembahyang selama dua hari. Di hari ketiga, umat Hindu menggelar arak-arakan menuju sungai untuk membuang bunga Sakti Kargem di sungai. "Syaratnya memang harus dibuang di sungai, karena di dalam kendi tempat bunga Puspa Kargem dimuat, terdapat air sungai. Setelah bunga Sakti Kargem dibuang, maka pelaksana ritual dan tokoh agama merangkai bunga Puspa Kargem yang terdiri atas bermacam bunga dan dedaunan yang ditata indah. Setelah Puspa Kargem rampung, puluhan dupa yang sudah dibakar ditancapkan ke bunga sambil diarak. Ini adalah bulan suci kami, makanya momen ini sangat pas untuk memanjatkan doa mohon berkat dari Dewa dan meminta agar jangan sampai menerima bala," katanya.
Upacara ini juga diikuti umat Hindu dari Medan, Deliserdang, Tebingtinggi, serta Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradi).
http://metrosiantar.com/METRO_SIANTAR/Umat_Hindu_Gelar_Upacara_Vaikasi_Maha_Puja_Di