22 Juli 2009

Warga Hindu Medan Gelar Doa tolak Bala

. 22 Juli 2009
0 komentar

Medan, 22/7 (ANTARA) - Seribuan masyarakat hindu di Medan menggelar doa tolak bala bersama di Kuil Dewi Shri Kaliaman Medan, Rabu, agar Indonesia dijauhkan dari berbagai bencana.

Pinandite (pendeta) Chandrabose mengatakan, kegiatan ini diawali sembahyang tanda syukur kepada Tuhan, berdoa dan makan bersama termasuk dengan para undangan.

"Doa ini dimaksudkan untuk menghindari bencana dan memohon restu dari Tuhan agar bangsa Indonesia diberikan perlindungan, aman dan sejahtera serta diberikan kejernihan pikiran untuk menjaga semua rakyat," katanya.

Semua umat diajak untuk mengedepankan kebenaran di atas kehidupan sehari-hari dalam menjalankan dharma di atas segala-galanya.

Pada prosesi acara ini masyarakat Hindu dari berbagai usia mulai anak-anak hingga orang tua, terlihat bersuka cita dan bermaaf-maafan termasuk kepada warga pemeluk agama lain untuk menjaga kerukunan umat beragama.

Seusai doa bersama, warga Hindu Medan juga menggelar makan bersama dengan sajian makanan vegetarian, dan yang hadir bukan saja penganut Hindu saja melainkan turut di undang warga penganut agama lainnya yang berada sekitar daerah itu.

Secara tegas umat Hindu di Medan mengecam tindakan aksi peledakan bom di Mega Kuningan Jakarta yang merenggut banyak korban.

Dia meminta kepada masyarakat agar menciptakan situasi aman, selalu bertakwa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Umat Hindu sejak pagi melakukan sembahyang di Kuil tersebut secara bergantian, yang berlangsung tertib dan khidmat.***4***

http://www.antarasumut.com/berita-sumut/berita-terkini/warga-hindu-medan-gelar-doa-tolak-bala/

Klik disini untuk melanjutkan »»

31 Maret 2009

1.400 Umat Hindu Hadiri Puncak Nyepi di Bengkulu

. 31 Maret 2009
1 komentar

Bengkulu, (tvOne)

Sebanyak 1.400 umat Hindu di Provinsi Bengkulu menghadiri puncak Hari Raya Nyepi tahun baru saka 1931 di Kemuning mercusuar Restro pantai Panjang Bengkulu.

"Acara semacam ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Provinsi Bengkulu, dan kami selaku panitia mengucapkan terima kasih atas dukungan bapak gubernur yang memprakarsai acara ini," kata ketua panita puncak perayaan nyepi 1931 saka, Ana Agung Nyoman, Senin (30/3/2009).

Acara puncak perayaan nyepi yang diselenggarakan di kawasan objek wisata Pantai Panjang tersebut dimulai jam 10:00 WIB diawali dengan suguhan Tari Barongsai dan Tari Kecak.

Acara dengan tema " Melalui perayaan Hari Raya Nyepi mari kita perkokoh kebersamaan guna mengatasi dampak krisis keuangan global dengan aktualisasi ajaran Tri Hita Karana" tersebut dihadiri oleh Gubernur Bengkulu, Kepala Kantor wilayah (Kanwil) Depag, Walikota Bengkulu dan tokoh-tokoh agama lainnya.

Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Provinsi Bengkulu, I Gede Karsana, menyambut baik acara puncak perayaan nyepi 1931 Saka karena acara tersebut dapat meningkatkan hubungan silaturahmi dan keakraban antara umat Hindu di Provinsi Bengkulu yang tersebar di Kabupaten dan Kota.

Menurut dia, umat Hindu yang hadir dalam acara puncak tersebut bukan hanya berasal dari Kota Bengkulu, tetapi juga datang dari Kabupaten Mukomuko, Kepahiang, Bengkulu Utara, Seluma, dan Kaur.

"Ini adalah ajang untuk bisa saling bersilaturahmi antara umat Hindu di Provinsi Bengkulu," katanya.

Selain itu, dengan momentum perayaan nyepi, menurut dia, dapat menumbuhkan rasa cinta kasih sayang antar sesama manusia, dengan mahluk hidup maupun hubungan dengan Sang Pencipta.

Selain acara puncak perayaan nyepi, sehari sebelumnya diadakan acara menanam pohon, kunjungan dan memberi bantuan ke panti sosial, dan kegiatan donor darah.

I Gede Karsana juga berharap perayaan semacam ini dapat dilaksanakan setiap tahun di Provinsi Bengkulu dan kepada Pemerintah dia juga berharap untuk bisa mengali potensi yang ada pada perayaan nyepi misalnya dengan menjadikanya `icon` pariwisata Bengkulu.

"Kita umat Hindu sangat mendukung program pemerintah, terutama yang berkaitan dengan program "visit indonesia year"," ujar dia.

Klik disini untuk melanjutkan »»

26 Maret 2009

Umat Hindu Tutup Nyepi Dengan Ngembak Geni

. 26 Maret 2009
0 komentar

BLITAR - Setelah menjalankan ajaran Catur Brata  Nyepi selama 24 jam, Jumat (27/3/2009) pagi, ratusan umat beragama Hindu melakukan persembahyangan Ngembak Geni (menyalakan api) atau kembali menjadi manusia baru, di Pura Penataran Agung Praba Buana di Dusun Tegal Rejo Desa Kendal Rejo Kecamatan Talun Kabupaten Blitar.

Dipimpin pangempon Pura Mangku Gede Supriyono, ratusan umat melakukan persembahan bebanten (sesaji) hasil bumi kepada Sang Hyang Widi Wasa.

Menurut keterangan Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Parisada Hindu Darma Indonesia Ari Marjito, upacara Ngembak Geni merupakan rangkaian terakhir dari hari raya Nyepi.

"Setelah kita memadamkan api dalam Nyepi, dengan Ngembak Geni kita menyalakanya lagi. Ibaratnya kita menjadi manusia baru yang diharapkan bisa lebih baik dari sebelumnya," ujarnya.

Dalam persembahyangan, pendita memerciki Tirta Kekuluh dan bija atau beras yang ditempelkan pada dahi setiap umat.

Air dan beras ini sebagai perlambang anugerah dari Sang Hyang Widi Wasa. "Dan untuk anugerah itu, sebagai rasa syukur kita persembahkan bebanten atau sesaji," terangnya.

Setelah upacara Ngembak Geni, umat Hindu melakukan acara Sima Karma atau dalam agama Islam semacam silaturahim, yakni saling mengunjungi rumah antar umat.

"Dalam kunjungan ini biasanya dilakukan dengan makan-makan," pungkasnya. Seperti diketahui acara Ngembak Geni yang dimulai sekitar pukul 06.30 WIB berakhir sekira 09.15 WIB. (Solichan Arif/Koran SI/fit)

news.okezone.com

Klik disini untuk melanjutkan »»

Ratusan Umat Hindu Nyepi di Pura Adhitya Jaya

.
0 komentar

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekitar 400 umat Hindu di Jakarta memilih melakukan Nyepi, salah satu hari raya Hindu, di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (26/3).

Pasalnya, suasana di pura lebih kondusif untuk melakukan Nyepi dibandingkan di rumah mereka. "Di pura mereka lebih mendapatkan feel-nya. Mereka juga dapat melakukan perenungan dan evaluasi diri selama setahun belakangan dengan lebih tenang," ujar Brahmacarya Bhargawa Chaitanya kepada Kompas.com di Pura Adhitya Jaya.

Hal ini diakui Ayu (35), warga Jakarta Timur. "Nyepi di pura lebih tenang. Kalau di rumah suasana kurang kondusif," ujar Ayu yang sehari-hari bekerja sebagai pengasuh bayi ini.

Ayu beserta ratusan umat Hindu lainnya berada di sekitar pendopo dan halaman pura yang sangat rindang dan asri tersebut. Sebagian umat memilih tidur, membaca buku, serta bersemedi.

Menurut Brahma, Nyepi bersama dimulai sejak awal tahun 2001, yakni di pura Taman Mini Indonesia Indah. Waktu itu jumlahnya masih berkisar 100 orang.

Seiring berjalannya waktu, jumlah umat terus bertambah. Sementara itu, lanjut Brahma, malam ini mereka akan dibimbing untuk melakukan semedi bersama. Hari ini, umat Hindu melakukan empat pelatihan diri, yaitu tidak bekerja, tidak menyalakan api, tidak bepergian, dan tidak melakukan aktivitas yang menyenangkan.

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com